Memahami Perbedaan Closed Source dan Open Source

Share and care !

Kecanggihan inovasi dan teknologi saat ini juga tidak terlepas dari adanya perangkat lunak/software open source. Open Source Software (OSS) merupakan perangkat lunak komputer apa pun yang didistribusikan dengan kode sumbernya yang tersedia untuk dimodifikasi. Itu berarti biasanya termasuk lisensi bagi pemrogram untuk mengubah perangkat lunak dengan cara apapun baik itu untuk memperbaiki bug, meningkatkan fungsi, atau menyesuaikan perangkat lunak agar sesuai dengan kebutuhan sendiri.

Sebelum open source menjadi populer, model perangkat lunak lainnya yang bisa diakses umum disebut free software (perangkat lunak bebas). Ini adalah bagian dari proyek GNU dimana merupakan sistem operasi yang muncul selama pergerakan perangkat lunak bebas untuk memberikan kebebasan maksimum kepada pengguna akhir dalam menggunakan kode sumber. Sayangnya pengguna hanya dapat menggunakan perangkat lunak untuk tujuan yang dimaksudkan dan setelah pembayaran.

Disamping free software yang tidak begitu bebas digunakan jika dibandingkan, ada juga Closed Source Software yang seperti namanya tentu mempunyai keterbatasan terutama bagi pengguna publik. Ini adalah dua jenis sumber yang sangat umum digunakan untuk pengembangan. Mari ketahui kedua perbedaan perangkat lunak ini dengan penjelasannya masing- masing.

 

Perbedaan Closed Source dan Open Source

 

 

Pada era modern penuh teknologi dan otomatisasi, perangkat lunak semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk meringkas banyak hal sehingga lebih efisien dan praktis. Namun apa pun jenis penggunaan yang dimiliki perangkat lunak atau software, dua jenis yang umumnya dipakai adalah closed source (sumber tertutup) dan open source (sumber terbuka). Simak dan ketahui kedua perbedaan sumber perangkat lunak dibawah ini.

 

Closed Source Software

Jenis perangkat lunak ini adalah perangkat lunak yang menyimpan kode sumber dengan aman dan terenkripsi. Dimana ini berarti para pengguna umum tidak dapat menyalin, memodifikasi, atau menghapus bagian dari kode tanpa beberapa jenis konsekuensi termasuk hingga dapat membatalkan garansi hingga bahkan akibat hukum yang serius. Hal lainnya yang perlu diketahui dari jenis sumber ini adalah :

Perangkat lunak sumber tertutup mengacu pada perangkat lunak komputer yang kode sumbernya ditutup berarti publik tidak diberikan akses ke kode sumber dimana kode sumber dilindungi.
Hanya individu atau organisasi yang telah membuat perangkat lunak saja yang dapat mengubah kode.
Closed Source Software juga umumnya disebut sebagai CSS.
Terdapat begitu banyak batasan pada pengguna berdasarkan kegunaan dan modifikasi perangkat lunak sehingga program tidak bersaing satu sama lain untuk mendapatkan pengakuan.
Adapun program dipekerjakan oleh perusahaan / organisasi perangkat lunak untuk meningkatkan perangkat lunak di samping juga terdapat batasan jumlah programmer/tim yang akan mengerjakan proyek tersebut.
Perangkat lunak tertutup harus memiliki lisensi yang valid sebelum dipasang ke komputer mana pun sehingga kode sumbernya tidak dapat diperjual belikan.
Perangkat lunak sumber tertutup tidak memiliki ruang untuk kegagalan karena jenis software ini vendor bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada perangkat lunak.
Karena harga perangkat lunak sumber tertutup tinggi, maka hanya pengembang khusus saja yang bisa melakukan perubahan. Sumber tertutup ini bisa ditemui pada Java, Google Earth, Adobe, Microsoft Windows, Skype, WinRAR dll.

 

Baca Juga  :     Jenis/Tipe CMS (Content Management System) dan Daftar Contoh Platform Populernya

 

Open Source Software

Berbanding terbalik dengan closed source, open source malah memberikan keleluasaan dan memungkinkan pengguna untuk menyalin, memodifikasi, atau menghapus bagian dari kode di bawah kebijaksanaan mereka sendiri. Bahkan pengguna dapat menggunakan fungsi sumber terbuka pada program mereka sendiri dengan bebas tanpa konsekuensi. Hal lainnya yang perlu diketahui dari jenis sumber ini adalah :

Mengacu pada perangkat lunak komputer yang sumbernya terbuka berarti masyarakat umum dapat mengakses dan menggunakan, dimana Open Source Software juga dikenal dan disebut OSS
Kode sumber perangkat lunak sumber terbuka ini bersifat publik sehingga kode ini dapat dimodifikasi oleh pengguna dan organisasi lain yang berarti bahwa kode sumber tersedia untuk dilihat siapa saja.
Dikarenakan kode bisa diakses banyak orang, maka tidak ada begitu banyak batasan pada pengguna berdasarkan kegunaan dan modifikasi perangkat lunak. Programmer bersaing satu sama lain dan dengan bebas memberikan peningkatan bagi pengembang lainnya. Lalu jika program dan peningkatan yang mereka buat menjadi populer, maka sejumlah programmer lainnya juga dapat mengerjakan proyek tersebut.
Mengingat kode jenis perangkat ini dibeli dengan kode sumbernya membuat open source dapat diinstal ke komputer mana pun.
Meskin jenis perangkat lunak dapat mengalami masalah dan gagal, tapi karena sifatnya yang terbuka akan membuatnya lebih cepat diketahui dan diperbaiki. Meski poin ini sangat bagus tetapi tidak ada pengembang atau perusahaan khusus yang bertanggung jawab atas perangkat lunak tersebut.
Contoh open source yang paling umum dan dapat ditemukan dengan mudah adalah Android, Firefox, PHP, VLC Media Player, Mozilla, Linux, Python, dll.

 

Baca Juga  :      Mengenal Apa Itu Odoo, Software Open Source untuk ERP and CRM

 

Memahami Apa Itu Closed Source dan Open Source

 

 

Demand yang tinggi membuat pasaran untuk perangkat lunak open source dan close source menjadi cukup kompetitif. Perbedaan yang mendasar mungkin terletak pada harga dimana open source dapat digunakan secara gratis jikan dibandingkan closed source. Meski demikian, sesuai yang dibayarkan, maka pengguna yang memilih closed source tentunya akan mendapatkan dukungan dan kepercayaan pelanggan yang menggunakan software dan aplikasi mereka nantinya.

Sebaliknya, open source yang di dapat secara gratis tentu tidak bisa menawarkan opsi terbaik yang meski demikian, pengembang masih bisa mengandalkan dukungan komunitas jika terjadi masalah dan kegagalan. Setiap sumber ini merupakan dua sisi mata koin dimana manfaat dari solusi open source cukup banyak dan andal terutama fleksibilitas dan skalabilitas.

Pengembang akan memiliki kendali penuh atas setiap aspek desain situs mereka, berkat menggunakan kode sumber terbuka. Pengembang juga dapat mengembangkan ide mereka lebih jauh lagi sehingga ketika bisnis yang menggunakan jenis software ini berkembangm maka juga akan berpengaruh pada dan penjualan bulanan yang ikut meningkat. Bahkan dengan pengembangan yang signifikan sekalipun, pengembang tidak akan dikenakan biaya lebih untuk volume penjualan mereka meningkat.

Di sisi sebaliknya, perangkat lunak sumber tertutup lebih mudah digunakan untuk pemula atau mereka yang tidak tahu cara membuat kode. Selain itu, situs web sumber tertutup lebih mudah dan lebih cepat untuk disiapkan meski memang ada biaya yang harus Anda keluarkan untuk kemudahan ini.

 

Baca Juga  Panduan  :      Tutorial Optimalisasi WordPress dengan Cyberpanel dan OpenLiteSpeed

 

Kesimpulan dan Penutup

Sangat populer, di antara pengembang, pembuat perangkat lunak sumber tertutup adalah orang-orang yang umumnya menangani pengembangan dan perbaikan. Ini juga berarti adalah di bawah kebijaksanaan mereka jika mereka melanjutkan pengembangan yang sedang berlangsung atau tidak. Memang sedikit beresiko jika pengembang memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan pekerjaan mereka.

Resiko ini cukup mengkhawatirkan karena pengembangan open source ditangani melalui kolaborasi massal. Akibatnya, pengembangan dan perbaikan biasanya terus berlanjut selama komunitas aktif saja. Lain pula closed source yang bisa mengakhiri dukungan perangkat lunak hampir kapan saja, sehingga pengembang harus berhenti. Tapi jika komunitasnya cukup besar dan aktif, Anda dapat mengharapkan pembaruan, fitur, atau perbaikan baru untuk waktu yang cukup lama.

 

The post Memahami Perbedaan Closed Source dan Open Source appeared first on IDCloudHost.


Share and care !

Leave a Reply